Tampilkan postingan dengan label korslet. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label korslet. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 Februari 2016

Heartbreaking.


And it happened again . Drama. I never intended to make - another drama. Because it is not easily resolved . And it’s heartbreaking . The worst point is that every time I get sad, I came back to remember all the good memories I have. I remember you :(

I think I 've lost my memory about you . The truth is you are the missing piece of my happiness . Being with you is irrational . Dream. Sweet little dreams . I'm afraid to wake up and realize that you're not real to me . You said I would go back to my consciousness and leave you behind . But for me, there is no such thing as a future for me as long as you do not exist . You might think I'm over - exaggeration to say that. But , It's been years and I don't feel okay .

It wasn’t always clear, there were also shadows . But it all seemed so right when we were together.

Rabu, 18 Maret 2015

Jumlah Anak (?)

Saya ingin punya anak tiga. Itu kataku. Lalu entah apa memang benar sengaja ingin menyulut pertengkaran, kamu katakan hanya ingin satu anak saja. Kamu tak ingin berbagi diriku dengan banyak anak, itu alasanmu. Lalu saat itu, menurutku kamu egois.

Mudah saja saya menyebut jumlah anak. Saya belum berpikir sejauh itu. Sebatas ingin, tapi tidak ada rencana lebih. Pikirku akan ramai bila jumlahnya segitu. Saya tidak akan kesepian. Belum terpikir biaya dan bagaimana cara saya membesarkan anak sebanyak itu. Pikiran saya masih dangkal.

Rupanya punya anak tidak segampang itu. Ribet urusannya. Belum hadir saja sudah jadi buah bibir mengapa belum hadir. Padahal kalau sudah hadir, belum tentu bisa diurus. Belum lagi masalah pendidikan dan biaya lainnya, ribet. Sepertinya memang mimpi saya tidak realistis.

Kalau begitu mari berandai anak kita satu. Kali ini biarkan saya berharap itu anak lelaki. Biarkan saya sedikit cerewet dengan anak kita kelak. Toh cinta untuk tiga anak dipadatkan untuk satu. Saya berjanji akan terus berupaya agar keluarga kita kokoh dan berbahagia.

Masalahnya sekarang, hidup masih menawarkan banyak kemungkinan. Mungkin saja tidak akan ada anak kita. Mungkin kita akan membangun keluarga dengan orang lain. Memiliki anak yang wajahnya tentu bukan perpaduan saya dan kamu. Atau mungkin bahkan tak punya anak, bahkan melajang seumur hidup. Semoga tidak.

Akhirnya saya mengerti. Saya yang egois. Ini bukan masalah jumlah. Saya hanya ingin membina keluarga denganmu. Selanjutnya, saya pasrahkan.

Senin, 29 Desember 2014

Penasaran

Saya tahu kamu masih hidup, makanya saya tidak menghubungimu. Tapi saya penasaran, bagaimana kamu hidup tanpaku? Bagaimana hidupmu memang bukan urusanku lagi, harusnya bukan hal yang harus saya khawatirkan. Tapi... :)

Saya juga melanjutkan hidup tanpamu. Entah menurut pendapatmu ataupun mereka usahaku berhasil apa tidak. Tapi saya masih hidup dan melakukan hal-hal yang saya anggap baik. Walaupun dulu saya pernah merasa tak bisa hidup tanpamu, buktinya saya masih bisa bernapas, kok. Kamu pasti juga begitu ya? Hehehe

Perlu saya akui kadang saya masih penasaran dengan hidupmu. Maafkan saya bila itu mengganggu. Entah saya masih sayang atau hanya kekurangan bahan untuk dipikirkan. Tenang saja, saya berusaha untuk menekan rasa penasaran saya. Tidak perlu kegeeran saya stalking, saya tidak sealay itu, haha. 

Kadang ketika saya melewati sesuatu, saya terbawa memori kita. Sedihnya karena itu sekedar kenangan. Senangnya karena ternyata masih ada hal yang baik yang bisa saya kenang tentangmu. Ya, saya inginnya hanya mengenang yang baik-baik saja

Malam ini mari kita berdoa, untuk didekatkan bila kita berjodoh, atau dipisahkan tanpa ada rasa penasaran lagi. Kalau bisa memilih kamu pilih yang mana?

Kalau pilihanku? Sepertinya masih kamu :p

Bercanda.
Saya juga masih penasaran dengan hati saya, haha

Sabtu, 26 Juli 2014

Malam itu

Malam itu dengan segala sikap dan tindak tandukmu, kau menghancurkan hatinya. Menghindar, menepis kehadirannya, menjadikannya orang asing. Orang yang tak tahu akhirnya pun akan tahu bahwa kisah kalian sudah usai. Meski coba tutupi, sikapmu sudah membongkar semuanya.
Malam itu anehnya dirinya tak sedih. Tak juga ingin menangisi sikapmu. Karena dia tahu yang tadi itu bukan dirimu. Dirimu sungguh pribadi yang penyayang, bukan penghancur hati. Atau karena dia tak berharap apapun. Dia mengira reaksimu jauh lebih buruk daripada yang tadi kamu perlihatkan.
Malam itu ketika kesepian sudah menyapa, kesedihan pun menggoda dan membuat matanya perih. Seperti ingin menangis. Tangisan yang sedari tadi coba dia tahan. Tapi tak jadi. Setelah dia membaca pesanmu. Entah kenapa engkau selalu datang memercikkan harapan tepat sebelum terucap kata menyerah.
Malam itu dia masih setia menunggumu menjemputnya.

Menyerah (?)

Dan disinilah dia, di kamar. Merenung. Terisak. Berlinangan air mata untuk hal yang sama meski pemeran utamanya berganti: putus harapan. Dia mengira rasanya akan beda atau sedikit lebih kebal bila pemeran utamanya berbeda. Ternyata tidak. Justru membawa rasa takut hal ini akan berakhir sama dengan cerita lalu. Ya, menyerah pada harapan.
Dulu rasanya seperti satu per satu orang yang dia sayangi direnggut dari sini. Sehingga merelakan ialah suatu keputusasaan akan hari dimana matahari bersinar cerah setelah badai berkepanjangan. Lalu tak lama, raganya seperti ada di tengah lautan luas. Tercebur dalam kegamangngan. Tapi tak lama ada cahaya yang menjadi penuntun untuk kembali menapak di tanah. Dan dia bahagia.
Kini sederhana rupanya tidak cukup lagi. Rasanya aneh bila mengatakan tidak ada yang salah tetapi situasi dan sikap telah berubah. Mengapa bisa terjadi? Sang cahaya mengatakan untuk beristirahat sejenak selagi menata kehidupan. Tak bisa masuk akalnya bagaimana bisa perasaan itu sekedar istirahat? Tidakkah sebelumnya sudah berniat untuk menata kehidupan secara bersama?
Malam ini semua kenangan manis terulang kembali. Rasanya tak mungkin baginya bisa menepis dan mulai fokus dengan hal lain. Semua kenangan itu terulang dan membuat hati ini semakin hancur. Seakan akan ada yang segera mengatakan: "menyerahlah".



Rabu, 18 Juli 2012

Arti Ketulusan (?)

Malam ini terlintas pentanyaan di kepalaku "Apakah arti ketulusan?". Sebetulnya dalam hati mungkin kita bisa membedakan sikap kita tulus atau tidak terhadap orang di sekitar kita, namun saya masih naif untuk membedakan mana orang yang tulus mana yang bukan. Atau mana yang tulus mana yang sekedar memanfaatkan diri kita untuk kepuasan pribadinya. Lalu sepertinya saya harus mengenal batasan tulus itu sampai sejauh mana untuk mengenalinya.
Nah, ketidaktahuan seperti ini yang hanya akan menyesatkan pilihan yang kita buat. Salah pilih, salah melangkah. Dalam setiap hubungan setiap orang menginginkan ketulusan. Banyak yang menuntut ketulusan dari dengan menguji hati bahkan terkadang mempermainkan perasaan orang lain. Misalnya saja ketika seorang wanita didekati oleh pria (atau sebaliknya), salah satu pihak cenderung terus mencari-cari ketulusan dari lainnya. Tapi apakah diri ini sendiri sudah tulus? Atau hanya sekedar menerima apa yang ada untuk menghindari konflik? Sepertinya malam ini saya belum bisa menjawab pertanyaan ini.

(Efek nonton film serial Korea. Kalau ngawur, mohon diabaikan :D )