Sabtu, 21 April 2012

Praktikum PoA versus Macet

Apa kabar praktikum PoA? Saya masih dalam perjalanan menuju kampus di tengah kemacetan kota Makasar saat seharusnya saya harus ada untukmu di ruang kuliah Faal (RKF). Sebuah truk di jalur menuju kampus tercinta (antara Adipura dan jembatan Tallo) terparkir tidak berdaya memacetkan kota. Bukan, bahkan bisa dikatakan membuat kendaraan parkir, tak bergerak sama sekali dalam waktu yang cukup lama. Kota ini seperti 'salah penataan', sedikit saja terhambat sudah macet.

Sebenarnya saya sudah tahu kalau dari pagi ada macet karena ada truk yang (kabarnya) bannya pecah. Makanya saya sengaja ke kampus tidak terburu-buru, berharap macet sudah usai ketika saya berangkat. Paling tidak, bisa lewa tol. Tapi ternyata, maetnya belum juga selesai dan Mama tidak mau lewat tol. Alhasil dua jam terkatung-katung dalam macet dan dalam perasaan "bisa tidak ya, saya ikut praktikum setelah telat lebih dari satu jam?".

Lebih menggalaukan lagi, sinyal di sekitaran Panaikkang sangat jelek. Saya tidak bisa memantau via recent update BBM info siapa saja yang telat atau apakah ada kemungkinan bisa ikut praktikum. Sekiran jam 11 akhirnya saya melewati truk 'biang'kerok' kemacetan pagi ini. Waktu itu sekitar tiga jam lebih sejak recent-update tentang macet dimulai, sekitar satu jam lebih dari jadwal praktikum PoA atau lebih tepatnya dua puluh menit sebelum praktikum berakhir. Eh, kenapa truk-biang-keroknya belum diderek, Pak Polisi? (-__-)a

Macet mengajarkan saya banyak hal hari ini. Mungkin karena memang saya sedang sok puitis, sok dramatis, dan sok peka, saya menganggap fenomena macet itu seperti kehidupan. Kita menunggu giliran maju dan terkadang mengekor dengan mobil yang ada di depan mobil kita. Supaya bisa terus maju, kita harus punya strategi bertahan di lajur yang lebih lancar. Bisa saja kita pindah lajur ke kiri maupun ke kanan namun, kita harus ingat terkadang jalanan makin sempit dan bisa saja lajur kita terpaksa mengalah.

Mobil yang ada di depan kita bisa saja nantinya akan ada sejajar dengan kita maupun bisa di belakang kita, begitupun sebaliknya. Lebih mudah di belakang mobil yang sama ukurannya karena artinya mobil kita bisa melewati jalur yang mobil tadi lalui. Sebaliknya, berada diantara truk dengan lajur yang sempit adalah pilihan sulit. Terkadang kita memilih untuk tidak maju karena takut terhimpit. Semua ingin terus maju yang membedakan ialah kemampuan mengambil kesempatan. Sama seperti persaingan dalam kehidupan.

Setelah melewati truk tadi, jalanan sangat lancar begitupun dengan recent-update BBM. Sempat terpikir tidak hanya saya yang telat, tapi melihat recent update yang tidak segalau dugaanku artinya prognosis buruk. Benar saja, sampai di kampus ternyata sisa 10 menit lagi praktikum selesai. Untung saja tadi saya cukup beruntung untuk lincah di saat yang tepat. Setelah praktikum rupanya tidak ada lagi kuliah. Artinya perjuangan saya untuk ke kampus demi 10 menit saja ? Sungguh tidak rela. X_X

Selasa, 17 April 2012

Mengitung Mundur

Mungkin terlalu cepat untuk menghitung mundur waktu lepas dari beberapa jabatan yang selama setahun belakangan ini mengoyakkan hidup saya. Ya, paling cepat sebulan lagi. Sebulan lagi saya akan lepas (paling tidak terbebas dari tanggung jawab sebagai pengurus) dari tiga amanah: BEM, HmI Kom. Kedokeran Unhas, dan tentunya jabatan asisten Faal FK Unhas. Ada kemungkinan sebelum saya menginjak umur 21 di akhir bulan Mei depan saya sudah terlepas dari semua itu. Ada kemungkinan saya sangat bersyukur dan ada kemungkinan saya akan sanagt rapuh saat itu.

Bisa dikatakan ketiga amanah itu sangat mempengaruhi hidup saya, baik sebelum akhirnya dipercaya maupun sampai sekarang. Ketika saya mengutak-atik laptop, saya menemukan banyak file kenangan bagaimana hidup saya terus berlanjut dari satu masa ke masa lain, dari satu kawan ke kawan lain. Sepertinya saya tidak memerlukan 'amnesia' seperti pemeran utama film "The Vow' untuk bingung mengapa hidup saya seperti ini sekarang jika dibandingkan dengan lima tahun sebelumnya. Apa yang dulu saya pertahankan sekarang bukan prioritas lagi.

Banyak hal yang tidak lagi saya paksakan, tapi tetap ada hal yang saya coba untuk selesaikan. Mungkin ini yang disebut psikologi-pengurus ya? Tapi tidak juga, setidaknya ini juga berpengaruh pada kehidupan sosial saya. Terkadang saya merasa menyesal dan ingin kembali ke masa-masa minimal sesaat saya ikut LKTM Ekonomi dulu. Banyak persimpangan yang saya lewati setelahnya dan keinginan untuk memutar balik sejujurnya sangat kuat. Tapi saya tahu bila diulangi sekali lagi mungkin hasilnya tetap sama. Apa yang tidak ditakdirkan ya tidak akan terjadi #eh

Pelajaran penting yang saya dapatkan ialah jangan terlalu menggantungkan kebahagiaan terhadap sesuatu. Termasuk jangan terlalu berpegang teguh dengan apa yang orang lain janjikan. Sudah terlalu banyak pembuktian dalam setahun ini, banyak janji maupun pernyataan sikap orang sekitar saya yang bertolak belakang dengan apa yang sebenarnya terjadi. Kalau diingat lagi, tetap ada perasaan mendongkol yang Alhamdulillah mulai menghilang ketika mengingat semua 'jebakan' yang telah saya lalui. Paling tidak sekarang saya bisa mengukur banyak hal.

Saya mencoba konsisten dengan prinsip bila tidak suka diperlakukan seperti itu, maka jangan melakukannya. Selain tidak kontradiktif dengan hati, setidaknya tidak memperumit masalah. Saya tetap di sini, tidak menghilang kemana pun. Mungkin sekarang saya cuma butuh waktu untuk menerima transisi atas banyak hal. Hidup mungkin telah mengajak saya berpetualang, tapi saya tetap Dini. Setelah ini mungkin hidup saya akan sangat hampa tapi mungkin itu yang saya butuhkan saat ini. Tapi mungkin saja itu hanya untuk beberapa saat saja :)

Selasa, 20 Maret 2012

Akumulasi

Selamat datang, sistem Tumbuh Kembang dan Geriatri! Akhirnya ku menemukanmu, hehehe. Tidak terasa sudah mendekati akhir siklus preklinik dan harus berhadapan dengan sistem-sistem yang menangkutkan menurut cerita senior-senior. Faktor pemicu stress juga sangat memuncak akhir-akhir ini. Mungkin sudah banyak yang jenuh dengan rutinitas preklinik. Semuanya sudah menuju titik akhir, menuju titik awal yang baru.

Hari ini saya hanya bisa mengikuti satu topik kuliah saja. Harga BBM segera dinaikkan oleh Pemerintah yang tampaknya tidak peka melihat penolakan kebijakan tersebut memaksa mahasiswa dan beberapa organisasi lainnya untuk turun ke jalan alias melakukan unjuk rasa. Tentu saja sebagai orang yang entah-sering-dikandangkan-atau-memang-seharusnya ikut mendampingi bapak Ketua BEM Kema FK Unhas *tepuktangan3kali*. Untung saja kuliah yang tadi saya ikuti sangat menarik: Obesitas pada anak.

Duduk di bangku belakang kini tidak lagi menghalangi kualias belajar di RKF. Sekarang sudah ada layar LCD di tengah ruanganterlebih ryan sang operaor kelas telah kembali kuliah di RKF #eh. Setelah saya pikir-pikir kuliah tadi sore menarik karena banyak hal, misalnya: dosennya adalah role-mode bagi saya, saya duduk di belakang namun di depan residen sehingga harus fokus, proyeksi LCD di belakang jauh lebih bagus daripada yang di depan, dan banyak statement yang 'jleb'.

Ketika input(makanan) lebih besar daripada output (energi yang dikeluarkan dalam beraktivitas), maka akan terjadi proses akumulasi yang akan menyebabkan obesitas
Kalimat ini sangat menjawab semua pertanyaan yang ada di kepala saya tentang banyak hal yang terjadi di sekeliling saya, baik itu masalah berat badan saya yang selalu mendekati interpretasi 'overweight', organisasi, keluarga dan pergaulan saya. Ya, akumulasi. Seperti materi kuliah yang saya ikuti: kita tidak sadar atau sebenarnya membiarkan atas dasar maklum sampai akhirnya healthy child sudah menjadi adult-obese yang susah ditangani.

Menurut ilmu Onkologi yang insya Allah tetap saya cintai, akumulasi dari sel yang gagal untuk diatur akan menjadi tumor dan berlanjut ke fase-fase berikutnya. Bicara soal onkologi, tidak jarang saya mendengar nasihat orang tua untuk tidak memendam emosi maupun perasaan supaya tidak terkena kanker (menurut mitos menghindari kanker payudara). Salah satu caranya adalah tidak menyakiti diri sendiri. Tapi untuk saya, sangat sulit untuk membulatkan tekad untuk menhindari faktor pencetus sindrom-menyakiti-diri-sendiri. Tentu saja masalah yang datang terus mengakumulasikan perasaan yang tidak nyaman pada saya. Tentu saja ini adalah masalah, memang ini saat yang tepat untuk 'detox dini'.

Setelah melakukan banyak pertimbangan baik itu timbang berat badan dan timbang perasaan, kali ini saya akan benar-benar serius dalam menjalankan niat-niat yang ada di kepalaku. Banyak hal yang harus dieksekusi mulai dari tanggung jawab, diet sehat, komitmen bagi diri sendiri dalam besosial-ria, dan tentu saja perbaikan diri. Sejauh ini semua program sedang saya jalankan dan Alhamdulillah sampai saat ini lebih bahagia dari sebelumnya dan lebih tentram. Semoga tekad kali ini tidak luntur, amiin O:)

Selasa, 20 Desember 2011

Itu yang Disebut Romantis :*

Bersyukur.Itu mungkin kata yang terpikir oleh saya saat ini. Di tengah banyaknya masalah, saya merasa masih dikelilingi oleh orang-orang yang mencintai saya. Terkadang ada masalah yang muncul dan itu 'tidak-cukup-membuat-saya-sedih', tapi ada mereka. Ya, mereka. Mereka yang begitu perhatiannya kepada saya entah itu setelah tahu atau sebelum mereka tahu konflik yg melibatkan saya. Mereka yang terbawa emosi, bahkan lebih emosional dari saya, membela saya.
Terkadang karena itulah saya hanya bisa terlihat baik-baik saja bahkan rasa humor saya meningkat di saat saya 'bermasalah'. Cenderung tidak menceritakan semuanya dan memang tidak nyaman rasanya melibatkan mereka atas apa yang benar- benar saya rasakan. Karena apa yang saya alami akan mudah saya lupakan jika bersama mereka sementara mereka masih terbawa emosi. Terlebih saya cenderung mengambil keputusan yang tidak favorit. Inilah yang membuat saya sedih atas masalah yang menimpa saya, tidak ada yang mendukung pilihan saya :(


HmI Komisariat Kedokteran Unhas dan kawan-kawan setelah resepsi, salah satu 'mereka' bagi saya :D



Beberapa saat lalu saya dituduh tidak sayang keluarga, jarang berkumpul dengan sahabat-sahabat saya, sibuk dengan urusan ini-itu. Mungkin mereka salah mengerti, justru sayalah yang sangat merindukan mereka. Tidak mengucapkan, bukan berarti saya tidak sayang. Tidak protes, bukan berarti saya tidak cemburu. Dan diamnya saya justru adalah bentuk ketidaksukaan saya tingkat tinggi. Saya berusaha untuk selalu ada untuk kalian. Terima kasih untuk menyayangi saya sebagai mana saya apa adanya. Itu yang disebut romantis :*

Senin, 28 November 2011

Sedikit Pembelaan untuk Okaru

Terkadang bukan pemeran utama dalam suatu kisah yang dapat mencuri perhatian Anda dalam membaca sebuah novel, namun sekedar pemain pendukung kisah tersebut.

Saya suka membaca seperti saya malas membaca. Saya senang membaca suatu kisah yang pasti bagus dalam artian telah direkomendasikan oleh orang-orang sekitar saya. Walaupun terkadang ada juga hal yang membosankan, tapi saya tetap membacanya sampai saya menemukan cerita menarik dan membuat saya tenggelam dalam ceita itu. Sebut saja, Harry Potter series dan Twilight saga adalah contoh buku-buku yang saya baca karena sangat direkomendasikan oleh sahabat-sahabat saya. Perlu dikoreksi, mereka selalu mem”follow up” baik sengaja atau tidak sengaja apakah saya sudah membaca buku tersebut atau tidak. Seakan ada pesan yang mereka sampaikan lewat buku tersebut dan saya harus membacanya agar “nyambung” dengan mereka. Syukurlah buku-buku yang mereka rekomendasikan selalu menjadi box office, sehingga saya yang penggemar nonton film ini justru merasa tertolong telah membaca novelnya sebelum menonton.

Banyak karakter yang menarik dalam setiap novel, namun terkadang bukan tokoh utama yang menarik perhatian pembaca. Misalnya saja Jacob dalam twilight saga yang mampu mengkalutkan hati pembaca yang terkadang merasa menjadi Bella yang bingung harus setia pada Edward atau tidak. Dalam kehidupan sehari-hari, tentu saja kita menjadi tokoh utama dalam hidup kita. Namun di kehidupan orang lain? Apakah kita hanya kebagian peran menjadi seorang Jacob Black dalam kehidupan Bella Swan?

Beberapa bulan lalu, saya termakan janji untuk membaca suatu novel lama yang tidak pernah saya lihat di took buku sebelumnya, Kisah 47 Ronin. Saya mendapatkan file pdf dari novel ini dari seorang senior dan dengan bodohnya saya terlanjur mengiyakan untuk membacanya. Awalnya, saya hanya membaca buku ini sedikit-sedikit. Hanya dua bab awal dan saya sudah muak dengan tata bahasa jepang yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia yang lumayan kaku. Terlebih saya membacanya di laptop dan artinya saya tidak lama-lama membacanya karena kesibukan dan mata saya yang sering perih bila berlama-lama di depan layar laptop.

Janji tetaplah janji. Berhubung saya sudah bosan ditanyai soal perkembangan membaca buku tersebut dan saya sedang libur, akhirnya saya memprint file tersebut setengahnya lalu setengah lagi ketika saya sudah selesai membaca hasil print awal. Buku itu bercerita tentang kesetiaan para Ronin terhadap majikannya. Mereka rela mengorbankan apapun demi membalas dendam kematian majikannya. Bahkan sampai ada yang rela bercerai dengan istrinya demi fokus dan meindungi istrinya dari hukuman yang mungkin ditimpankan kepada keluarga ronin yang memberontak. Cerita yang sungguh tidak romatis.

Bagian yang membuat saya tertarik dari novel itu adalah bagian pasca Oishi, ronin yang meceraikan isrinya tadi, mencelupkan dirinya dengan kehidupan geisha, ke dalam kehidupan Okaru sang geisha cantik yang memikat hatinya sejak pandangan pertama. Semua itu agar menyamarkan misi balas dendam mereka. Sebagai wanita (mendramatisir, ya, anggap saja saja mengerti perasaan seperti wanita) saya sangat sedih ketika Oishi terpakasa menceraikan dan memulangkan istri dan anaknya ke rumah mertuanya demi melindungi sisa keluarganya tersebut. Tapi tentu saja, emosi itu meluap ketika Oishi mulai mabuk-mabukan dan Okaru hadir dalam keidupan Oishi untuk mengobati kerapuhan Oishi.

Pada akhirnya Oishi meninggalkan Okaru ketika misinya sudah tersamar. Misinya berhasil dan ia dihukum harus melakukan “seppuku”. Sesaat senbelum kematiannya ia mengenang orang-orang yang ia cintai termasuk Okaru. Singkatnya, saya mengambil kesimpulan bahwa Oishi telah benar-benar tidak mengontrol perasaannya ketika menjalankan ide gilanya untuk menyamarkan misi utamanya. Hatinya entah itu hanya sedikit atau cukup banyak telah diisi oleh Okaru meskipun Oishi jelas mencintai dan bersyukur atas segala hal yang telah ia lewati bersama istrinya dulu.

Ketika beberapa bualn lalu saya ditanya mengenai apa yang saya pesan yang saya dapat dari buku ini, saya menceritakan kekesalan saya atas Oishi yang “womanizer”. Awalnya, saya menganggap buku ini adalah pelegalan atas perselingkuhan. Ya, saya memang sangat naïf. Meskipun saya sudah membaca bahwa di bab mengenai Okaru jelas jelas Oishi telah menceraikan istrinya, saya tetap merasa Oishi telah beselingkuh. Saya rasa ini tidak adil bagi istrinya, diceraikan dengan alasan ingin fokus dan mau melindungi keluarga mereka namun ternyata sang suami sempat terlibat cinta dengan sang geisha. Meskipun saya telah dijelaskan bahwa Okaru adalah orang baik dan pada dasarnya itu hanya sebuah taktik, saya tetap membenci Okaru dan menganggap Oishi tidak adil. Apakah kalau Okaru adalah orang baik maka itu akan mengurangi rasa sakit hatinya bahwa hati suaminya juga telah dimiliki Okaru?

Namun malam ini secara random saya teringat kembali kisah itu. Bagaimana ternyata saya terlalu fokus pada satu sisi saja? Bagaimana kalau saya salah menerjemahkan maksud penulisnya keika ia menceritakan Okaru? Bagaimana ternyata saya salah menegenali Okaru? Setiap wanita tidak ingin menjadi orang ketiga dan ketika dia menjadi orang ketiga, apakah dia salah? Apakah dia menginginkannya? Apakah dia tidak berhak untuk dibela? Apakah dia juga tidak sakit hati ketika sekelilingnya menceritakan tentang istri dan segala masa lalu keluarga Oishi?

Malam ini saya bersyukur telah memaafkan Okaru yang saya benci saat itu. Terlalu egois bila menyalahkannya. Mungkin seperti yang pendapat orang : “Soal Okaru itu mungkin karena bablas, just by accident”. Jujur saja, saya didik dalam keluarga yang menjunjung tinggi komitmen dan kesetiaan dalam berhubungan dengan siapa saja, baik itu keluarga, sahabat maupun dalam menjalankan organisasi dan tentu saja saya dulu cenderung memihak istri Oishi dan sekarang pun tidak berarti saya berbalik tidak mengasihinya. Beberapa bulan lalu, saya menyalahkan Oishi dan Okaru untuk insiden mereka dan menganggap bab-bab kebersamaan mereka merusak keseluruhan buku itu. Namun saat ini, saya melihat masalah ini dengan sedikit berbeda.

Kita tidak tahu kita telah membuat orang sedih ataupun kecewa atas kebahagiaan yang kita rasakan sekarang, namun semoga kita semua mendapatkan kisah dan akhir yang bahagia.

Makassar, 28 november 2011 2:11AM –saatnya tidur ! :D

Jumat, 06 Mei 2011

Selamat Malam, Sahabat-Sahabatku :)

Selamat Malam, Sahabat-sahabatku. Seperti yang kita sadari bersama, kita sedang berkonflik. Lalu mengapa kalian mempertanyakan apa itu konflik? Dengan iseng, saya akan menjawab mengenai definisi konflik yang saya dapatkan dari hasil 'browsing' lewat handphone.

Menurut Killman dan Thomas (1978), konflik merupakan kondisi terjadinya ketidakcocokan antar nilai atau tujuan-tujuan yang ingin dicapai, baik yang ada dalam diri individu maupun dalam hubungannya dengan orang lain. Kondisi yang telah dikemukakan tersebut dapat mengganggu bahkan menghambat tercapainya emosi atau stres yang mempengaruhi efisiensi dan produktivitas kerja


Nah, ternyata kita sedang ada di tahap ke-4 konflik yaitu Konflik terlihat secara terwujud dalam perilaku (manifest behavior). Definisinya adalah upaya untuk mengantisipasi timbulnya konflik dan sebab serta akibat yang ditimbulkannya; individu, kelompok atau organisasi cenderung melakukan berbagai mekanisme pertahanan diri melalui perilaku. Masih belum mau jujur terhadap perasaan masing-masing? Padahal sudah jelas manifestasinya : kita sudah tidak saling melempar komentar seperti (˘⌣˘)ε˘`) dsb.

Setelah saya tahu kenyataan yg ada, saya memutuskan tidak akan memaksakan lagi menyambungkan ini-itu lagi. Rasanya sudah lelah tidak dipercaya atau dicurigai maupun jika ada yg merasa sebaliknya. Tapi, saya tetap menyayangi semuanya secara utuh, masing-masing pribadi. Kalau ada salahku, saya minta maaf. Saya harap tidak ada lagi yg merasa disakiti maupun tersakiti. Maaf bila saya ngelantur malam ini, kebetulan lagi demam, maklum. :D

Rabu, 27 April 2011

Tambah Ilmu Selagi Muda

Pelatihan, pelatihan, dan pelatihan. Waktu masih maba dulu, saya sangat malas berhubungan dengan yang namanya pelatihan. Awalnya sih, malas ikut pelatihan atau yang akrab disapa 'pengkaderan'. Sederhana saja, saya merasa sudah cukup muak berorganisasi semasa SMA dan targetan saya ke depan ialah akademik, bukan organisasi. Tapi saya cuma bisa berencana, dan Allah punya rencana lain. Yup, sekali lagi saya 'terjerumus', hehehe.

Beberapa hari belakangan ini, saya baru saja mengkuti "Latihan Kader Kesehatan Nasional" oleh Bakornas LKMI HmI. Kebetulan Makassar jadi tuan rumah untuk pelatihan kali ini. Sebenarnya saya sempat bimbang mau ikut apa tidak, terlebih karena sehari setelah kegiatan diadakan ujian final sistem Urogenital. Dengan campuran rasa ingin menambah ilmu, menambah teman, tanggung jawab karena sudah janjian ikut sama Resty dan arahan senior, akhirnya saya ikut juga. Alhamdulillah, menyenangkan. Setidaknya saya bahagia selama kegiatan ini (dilihat dari seberapa sering saya loncat-loncat kecil, hehehehe).


LK Kes Nas Perdana dan dilaksanakan di Pusat Diklat Perindustrian, Makassar :D


Selain bertemu dengan teman-teman dari cabang LKMI HmI lain (Padang, Jakarta Raya, Depok, Ciputat, Manado) maupun teman secabang (yang dulunya tidak saling kenal menjadi akrab), saya juga berkesempatan menjalin silahturahmi dengan pengurus bakornas yang sebagian adalah senior-senior di komisariat. Ada beberapa senior yang 'mudik' dari jakarta karena mengurus kegiatan ini, seperti kakak-kakak pejuang baksosnas yaitu kak Ardi, kak Ukki, kak Uchie, dan kak Halik alias kak Hatam yang akhirnya bisa bertemu langsung setelah lebih dulu lomba cerdas cermat ria lewat bbm. Sekalai lagi dan tentu saja saya tetap jadi objek adik-tertindas mereka, hahaha.

Setelah pelatihan yang lumayan melelahkan, kita sempat rekreasi alias jalan-jalan bersama. Mulanya rekreasi di Bantimurung, lalu jamuan makan di rumah kak Halik, menemani teman-teman peserta lain berbelanja di Jl. Somba Opu, dan menghabiskan malam di anjungan pantai Losari. Di Anjungan pantai Losari, kita sempat naik bebek-bebek (akhirnya rasa penasaran saya terhadap bebek-bebek anjungan terjawab, hehehehe), dikerumuni adik-adik pengemis yang sedikit maksa, menonton pengamen yang punya gala ala anak-anak distro, dan tentunya berfoto-foto ria.

Awalnya saya kira acara rekreasi cuma sebentar cuma sebentar, makanya saya menculik Surya dan Mula untuk mengantar Saya, Resty, dan Kak Akbar yang menyusul karena urusan kuliah dan ujian. Ternyata sampai malam, bahkan mereka masih melanjutkan acara sampai tengah malam setelah saya diantar pulang. Ironisnya, kak Upik sampai kira hapenya hilang, padahal tadi hapenya sudah Saya dan Resty titipkan ke Akbar supaya diserahkan ke Kak Upik sebelum kita menyusul ke Bantimurung. Rupanya, pas sudah di maros, kak Akbar baru ingat soal amanah tadi. JAdilah sepanjang perjalanan di rekreasi Saya, Resty, Mula dan Surya menindas kak Akbar yang keburu takut 'dihabisi' sama kak Upik, hahahaha.


Jalan-jalan sampai malam :D


Mengikuti pelatihan seperti ini memang menyenangkan tapi tentu saja tetap membawa beban amanah untuk diaktualisasikan di kehidupan nyata. Bukankah kita latihan supaya ketika 'ujian' bisa sukses? Selagi muda, tidak ada salahnya menimba ilmu. Sudah tua pun, pelatihan masih tersedia buat kita misalkan petihan kepemimpinan untuk PNS seperti yang sekarang Papa ikuti selama hampir 2 bulan ini. Yah, kalau sudah terbiasa sejak muda pasti akan lebih santai dan bisa mengikuti ritme dan tahu cara 'kalasi', hehehe. Iman Ilmu Amal Padu Mengabdi, Yakin Usaha Sampai :)