Senin, 15 Februari 2016

Heartbreaking.


And it happened again . Drama. I never intended to make - another drama. Because it is not easily resolved . And it’s heartbreaking . The worst point is that every time I get sad, I came back to remember all the good memories I have. I remember you :(

I think I 've lost my memory about you . The truth is you are the missing piece of my happiness . Being with you is irrational . Dream. Sweet little dreams . I'm afraid to wake up and realize that you're not real to me . You said I would go back to my consciousness and leave you behind . But for me, there is no such thing as a future for me as long as you do not exist . You might think I'm over - exaggeration to say that. But , It's been years and I don't feel okay .

It wasn’t always clear, there were also shadows . But it all seemed so right when we were together.

Rabu, 18 Maret 2015

Seputar Lanjut Sekolah

Heiho! 


Dokter maupun calon dokter pasti pernah ditodong dengan pertanyaan "jadi mau lanjut spesialis apa, dok?". Lalu tiba-tiba tergalau sendiri.

Sepanjang preklinik maupun coass, pertanyaan mau lanjut apa dan peranakannya memang momok bagi saya. Kenapa? Ya karena lanjut spesialis itu butuh biaya, pengertian dan dukungan dari keluarga, pemikiran yang matang terutama "hitung-hitungan-masa depan". Istilahnya bukan perkara yang sembarangan comot. 

Mari berandai: seandainya premis awal yaitu umur, dukungngan, biaya dan kesempatan terpenuhi, mau pikir apa lagi? Ya tentunya spesialisasi apa. Pikiran pertama, ya lahan yang digemari. Lha? Hampir semua cabang ilmu saya sukai (ok, mari kita tutup mata dan pasrah pada sub immunologi yang ribet, hehe). Oke maju ke topik kuliah yang membuat jatuh cinta pada kedokteran. Kalau saya, ya Onkologi. Masalahnya onkologi sekarang sudah menjadi subspesialisasi di tiap bagian. (Oke, mari tambah bingung).

Kedua, pasien-yg-diharapkan. Oke, saya tidak berharap ada orang yang sakit ya, justru saya paling tidak berharap bertemu dengan pasien anak dan manula. Alasannya simple: siapa yang tega melihat 'mereka' sakit. Tapi, setelah akhirnya (tersadarkan) mengurus Alm. Nenek Nun, saya baru sadar dokter yang fokus ke geriatri masih sedikit di Makassar. Tidak jarang ketemu pasien geriatri, tidak lama saya malah nangis di pojokan (harap maklum, masih berduka). Selain itu, makin ke sini, kesempatan jadi asisten dokter spesialis justru kebanyakan dapat kasus anak. Rencana Allah memang hebat ya?

Suatu malam keluarga pasien berkata "Dok, masuk Anak aja dok" lalu dengan cepat "Hmm, sepertinya tidak Bu". Am I the only one who said like that? Yah, saya masih cemen untuk ambil resiko itu, meskipun cuma rencana, haha.

Ketiga, prospek ke depan. Tidak munafik, semua pekerjaan selayaknya bisa memberikan penghidupan yang 'dianggap' sesuai. Cabang ilmu yang ini berkembang tidak di masa depan? Diperlukan masyarakat tidak? Nah, kalau jadi spesialis mau tinggal dimana? Di kota A, dokter spesialis XX, YY sudah ada. Terus? Kalaupun dipaksakan di kota A, bergantung lagi dari kelebihan jasa yang ditawarkan supaya bisa tetap dianggar. Misalnya keramahan, tempat praktek yang strategis, obat murah, obat mujarab, dan perakannya yang tentu saja membutuhkan reputasi, relasi, dan pengalaman yang mesti digali dulu. Hal ini mungkin butuh waktu bertahun-tahun. Yah, saya berharapnya sih, suatu hari nanti saya punya pasien "fanatik". Sekarang kalau ditungguin datang sama pasien saja, serasa mau kasih kue ke pasiennya saking saya merasa terharu, hehehe.

Akhir kata, saya masih bingung. Apalagi premis awal belum terpenuhi, hehe. Namanya juga anak muda (?) Jalani saja dulu~ 

Jumlah Anak (?)

Saya ingin punya anak tiga. Itu kataku. Lalu entah apa memang benar sengaja ingin menyulut pertengkaran, kamu katakan hanya ingin satu anak saja. Kamu tak ingin berbagi diriku dengan banyak anak, itu alasanmu. Lalu saat itu, menurutku kamu egois.

Mudah saja saya menyebut jumlah anak. Saya belum berpikir sejauh itu. Sebatas ingin, tapi tidak ada rencana lebih. Pikirku akan ramai bila jumlahnya segitu. Saya tidak akan kesepian. Belum terpikir biaya dan bagaimana cara saya membesarkan anak sebanyak itu. Pikiran saya masih dangkal.

Rupanya punya anak tidak segampang itu. Ribet urusannya. Belum hadir saja sudah jadi buah bibir mengapa belum hadir. Padahal kalau sudah hadir, belum tentu bisa diurus. Belum lagi masalah pendidikan dan biaya lainnya, ribet. Sepertinya memang mimpi saya tidak realistis.

Kalau begitu mari berandai anak kita satu. Kali ini biarkan saya berharap itu anak lelaki. Biarkan saya sedikit cerewet dengan anak kita kelak. Toh cinta untuk tiga anak dipadatkan untuk satu. Saya berjanji akan terus berupaya agar keluarga kita kokoh dan berbahagia.

Masalahnya sekarang, hidup masih menawarkan banyak kemungkinan. Mungkin saja tidak akan ada anak kita. Mungkin kita akan membangun keluarga dengan orang lain. Memiliki anak yang wajahnya tentu bukan perpaduan saya dan kamu. Atau mungkin bahkan tak punya anak, bahkan melajang seumur hidup. Semoga tidak.

Akhirnya saya mengerti. Saya yang egois. Ini bukan masalah jumlah. Saya hanya ingin membina keluarga denganmu. Selanjutnya, saya pasrahkan.

Senin, 29 Desember 2014

Penasaran

Saya tahu kamu masih hidup, makanya saya tidak menghubungimu. Tapi saya penasaran, bagaimana kamu hidup tanpaku? Bagaimana hidupmu memang bukan urusanku lagi, harusnya bukan hal yang harus saya khawatirkan. Tapi... :)

Saya juga melanjutkan hidup tanpamu. Entah menurut pendapatmu ataupun mereka usahaku berhasil apa tidak. Tapi saya masih hidup dan melakukan hal-hal yang saya anggap baik. Walaupun dulu saya pernah merasa tak bisa hidup tanpamu, buktinya saya masih bisa bernapas, kok. Kamu pasti juga begitu ya? Hehehe

Perlu saya akui kadang saya masih penasaran dengan hidupmu. Maafkan saya bila itu mengganggu. Entah saya masih sayang atau hanya kekurangan bahan untuk dipikirkan. Tenang saja, saya berusaha untuk menekan rasa penasaran saya. Tidak perlu kegeeran saya stalking, saya tidak sealay itu, haha. 

Kadang ketika saya melewati sesuatu, saya terbawa memori kita. Sedihnya karena itu sekedar kenangan. Senangnya karena ternyata masih ada hal yang baik yang bisa saya kenang tentangmu. Ya, saya inginnya hanya mengenang yang baik-baik saja

Malam ini mari kita berdoa, untuk didekatkan bila kita berjodoh, atau dipisahkan tanpa ada rasa penasaran lagi. Kalau bisa memilih kamu pilih yang mana?

Kalau pilihanku? Sepertinya masih kamu :p

Bercanda.
Saya juga masih penasaran dengan hati saya, haha

Sabtu, 26 Juli 2014

Musuh Dini Musuh

Beberapa teman bertanya "Din, banyaknya musuhmu di'?". Kalau dikonfirmasi seperti ini saya juga bingung sendiri. Musuh seperti apa maksudnya?
Lalu saya teringat. Oh, mungkin maksudnya orang yang tidak menyukai saya. Ya kalau dipikir-pikir sedih juga ada yg tidak senang dengan kita. Padahal saya sama sekali tidak pernah bermaksud jahat pada siapa pun. Dan saya tidak sedang (Alhamdulillah) membenci siapapun.
Bertindak baik ke orang pun tidak jarang ada saja yang terlewatkan. Itu karena tidak mungkin kita bisa membahagiakan semua orang. Dan kecewa yang muncul dari orang lain yang terlewatkan itulah asal mula permusuhan. Tapi bukankah munafik bila kita berpura-pura baik atau perhatian terhadap orang lain? Jadi kalau ada yang kecewa ya mohon maaf saya pribadi tidak seperti apa yang mereka harapkan.
Tapi kalau ditelaah lagi, lebih banyak orang baik dalam hidup saya. Dan untuk itu saya bersyukur kepada Allah karena saya tidak diperlakukan selayaknya musuh-Nya. Cinta-Nya selalu menyertai saya melalui orang-orang baik itu. Lantas kenapa saya mesti terus bersedih meratapi 'musuh' saya?
Saya ingat seorang ulama pernah berceramah tentang kesabaran menghadapi musuh. Katanya, jangan merasa terbebani untuk sabar menghadapi musuh. Anggap saja sebagai ladang amal. Asal kita sabar dan tidak membalas dendam.
Jadi kalau ada lagi yang bertanya "bagaimana hubunganmu dengan musuhmu?", saya akan menjawab "Musuh? Saya tidak merasa tuh punya. Tapi kalau ladang amal, ada, selama saya sabar. Mohon doanya" :)

Sahur tanpa Mama

Mama, hari ini saya telah berburuk sangka. Saya kira hari ini akan buruk, tidak menyenangkan. Beribu rasa curiga muncul, dan membuat hati tak ikhlas.
Mama, terima kasih engkau telah membesarkan hatiku. Tanpamu saya sulit untuk mengikhlaskan apa yg kujalani saat ini. Ternyata benar, selalu ada berkah di ujung doamu.
Mama, berat rasanya tidak makan sahur denganmu hari ini. Tapi Alhamdulillah, ada saja rezeki berkat doamu.

Malam itu

Malam itu dengan segala sikap dan tindak tandukmu, kau menghancurkan hatinya. Menghindar, menepis kehadirannya, menjadikannya orang asing. Orang yang tak tahu akhirnya pun akan tahu bahwa kisah kalian sudah usai. Meski coba tutupi, sikapmu sudah membongkar semuanya.
Malam itu anehnya dirinya tak sedih. Tak juga ingin menangisi sikapmu. Karena dia tahu yang tadi itu bukan dirimu. Dirimu sungguh pribadi yang penyayang, bukan penghancur hati. Atau karena dia tak berharap apapun. Dia mengira reaksimu jauh lebih buruk daripada yang tadi kamu perlihatkan.
Malam itu ketika kesepian sudah menyapa, kesedihan pun menggoda dan membuat matanya perih. Seperti ingin menangis. Tangisan yang sedari tadi coba dia tahan. Tapi tak jadi. Setelah dia membaca pesanmu. Entah kenapa engkau selalu datang memercikkan harapan tepat sebelum terucap kata menyerah.
Malam itu dia masih setia menunggumu menjemputnya.

Menyerah (?)

Dan disinilah dia, di kamar. Merenung. Terisak. Berlinangan air mata untuk hal yang sama meski pemeran utamanya berganti: putus harapan. Dia mengira rasanya akan beda atau sedikit lebih kebal bila pemeran utamanya berbeda. Ternyata tidak. Justru membawa rasa takut hal ini akan berakhir sama dengan cerita lalu. Ya, menyerah pada harapan.
Dulu rasanya seperti satu per satu orang yang dia sayangi direnggut dari sini. Sehingga merelakan ialah suatu keputusasaan akan hari dimana matahari bersinar cerah setelah badai berkepanjangan. Lalu tak lama, raganya seperti ada di tengah lautan luas. Tercebur dalam kegamangngan. Tapi tak lama ada cahaya yang menjadi penuntun untuk kembali menapak di tanah. Dan dia bahagia.
Kini sederhana rupanya tidak cukup lagi. Rasanya aneh bila mengatakan tidak ada yang salah tetapi situasi dan sikap telah berubah. Mengapa bisa terjadi? Sang cahaya mengatakan untuk beristirahat sejenak selagi menata kehidupan. Tak bisa masuk akalnya bagaimana bisa perasaan itu sekedar istirahat? Tidakkah sebelumnya sudah berniat untuk menata kehidupan secara bersama?
Malam ini semua kenangan manis terulang kembali. Rasanya tak mungkin baginya bisa menepis dan mulai fokus dengan hal lain. Semua kenangan itu terulang dan membuat hati ini semakin hancur. Seakan akan ada yang segera mengatakan: "menyerahlah".



Minggu, 19 Januari 2014

Rasa itu

Rasa itu kembali muncul belakangan ini. Sulit untuk mendeskripsikanmya secara tepat. Yap, seperti percampuran kesedihan, kesendirian, kebimbangan, dan ketidakpuasan yang ada pada satu lubang besar. Entah apa penyebabnya dan entah apa solusi untuk menghilangkan rasa itu.
Ada yang pernah bilang, lakukan hal yang berbeda dan mulailah hidup baru. Tapi apa? Apa yang bisa diharapkan berbeda dari kehidupan yang terjadwal dengan rapi? Nonton tv? Film? Liburan? Tak ada gunanya bila tak ada teman yang menemani. Semua mendadak tidak menarik lagi tanpa dia yang bisa mengerti tentang rasa itu. Lalu dimana dia?
Tapi ini bukan karena dia, ini murni karena ada sesuatu yang salah pada jiwa ini. Masalahnya, entah apa itu. Seperti ada kerinduan yang tertuju pada sesuatu yang tersembunyi yang turut memperparah lubang besar itu. Seakan tidak lama lagi jiwa ini akan terjatuh ke sana dan tidak ada yang bisa dilakukan. Seolah-olah semua rencana akan gagal, semuanya tak tampak menarik untuk diperjuangkan.
Mimpi pun tak berpihak padaku. Percikan antara ingatan dan fantasi yang muncul sebagai pesan alam bawah sadar ini justru semakin membuat hati ini bimbang. Tak jarang malah membangkitkan ingatan masa lalu tentang kesedihan yang sebenarnya tidak ingin diingat lagi. Mungkin, inilah rasa takut akan ketidakbahagiaan atau saya hanya terjebak dalam kebimbangan semu. Semoga.

Minggu, 24 Februari 2013

Sekedar Menjalani

Tidak terasa saya sudah di minggu fase-renjatan Bagian Anak, minggu 10! Cerita lama tapi yup terjadi lagi: isi kepala serasa minggu awal. Serasa saya ini cuma sekedar menjalani saja. Tapi, patut disyukuri, minggu-minggu berat dapat terlewati. Setidaknya saya masih hidup *eh.
Masih ada seminggu lagi sebelum ujian, dan semoga tangan ini berhenti mengetik lalu mulai mengambil diktat untuk belajar:)

Sabtu, 27 Oktober 2012

Rangkaian Kata

Dan maafkan  diri ini karena sudah berdosa terhadap perkembangan otak  sendiri dalam merangkai kata dan mengekspresikan emosi. Belakangan ini saya sepertinya sudah jera dengan dunia maya dan sedang sangat menikmati realita yang ada di hadapanku. Memang benar, yang nyata lebih membahagiakan. Apa yang selama ini saya upayakan terwujud: lulus preklinik tepat waktu, menjalani dunia co-asst. dan ditemukan oleh lelaki yang kini saya upayakan untuk menjadi yang terakhir dan selamanya. Alhamdulillah :)

Sabtu, 18 Agustus 2012

Usai


Dan, begitulah. Telah selesai dan sempurnalah kisah seorang kakek dan cucunya. Kisah pendewasaan yang penuh liku-liku. Kisah tentang seorang gadis dengan harapan, pembelajaran, dan kesalahpahaman. Tentang usaha untuk menyamakan langkah dan memperbaiki diri agar pantas.
Hati ini mengaku sudah tak ada tersisa lagi, telah usai. Tapi ketika betul-betul telah sampai waktunya, pipi ini tetap basah. Seakan selama ini telah siap menunggu saat ini. Rasanya perih seperti ketika luka lama yang dicungkil dan diberi asam lagi. Ternyata memang ini saatnya.
Sekarang hanya ada setitik kecil di hati yang meronta seakan masih percaya keajaiban itu ada. Lalu dimana tadi semua cerita untuk yang lain? Dimana dirimu? Gadis ini takut terlarut lagi. Semoga ini cuma efek kelegaan setelah sekian lama.

Menatap ke cermin, masih tertempel memo kuning itu. Yah sudahlah, toh sudah berakhir. Saatnya melepaskan tempelan memo artinya :')

Rabu, 18 Juli 2012

Arti Ketulusan (?)

Malam ini terlintas pentanyaan di kepalaku "Apakah arti ketulusan?". Sebetulnya dalam hati mungkin kita bisa membedakan sikap kita tulus atau tidak terhadap orang di sekitar kita, namun saya masih naif untuk membedakan mana orang yang tulus mana yang bukan. Atau mana yang tulus mana yang sekedar memanfaatkan diri kita untuk kepuasan pribadinya. Lalu sepertinya saya harus mengenal batasan tulus itu sampai sejauh mana untuk mengenalinya.
Nah, ketidaktahuan seperti ini yang hanya akan menyesatkan pilihan yang kita buat. Salah pilih, salah melangkah. Dalam setiap hubungan setiap orang menginginkan ketulusan. Banyak yang menuntut ketulusan dari dengan menguji hati bahkan terkadang mempermainkan perasaan orang lain. Misalnya saja ketika seorang wanita didekati oleh pria (atau sebaliknya), salah satu pihak cenderung terus mencari-cari ketulusan dari lainnya. Tapi apakah diri ini sendiri sudah tulus? Atau hanya sekedar menerima apa yang ada untuk menghindari konflik? Sepertinya malam ini saya belum bisa menjawab pertanyaan ini.

(Efek nonton film serial Korea. Kalau ngawur, mohon diabaikan :D )

Tentang Rindu

Rindu itu selalu ada untuk kalian. Tapi karena adanya kerja antagonis dari nervus parasimpatis-simpatis sehingga seakan saya pun tak merindu. Hanya rasa pilu dan air mata yang menetes tanpa sadar yang bisa menjawab keraguan itu itupun jika kalian bisa merasakannya. Tidak bisa juga saya pungkiri bahwa sebagai manusia biasa tidak setiap detik saya tersiksa oleh rindu itu.

Karena rindu itu saya simpan di lubuk hati dan dibentengi dengan tembok tebal hingga tak terlihat. Itu semua saya simpan secara hati-hati karena saya tidak akan membiarkan diri saya terlarut lagi. Itu semua karena saya tahu betapa kecewanya dirimu dan diriku ketika kita terjebak dalam kesalahan. Itu semua karena kita harus melanjutkan hidup. Tidak peduli betapa perihnya rindu itu menyayat, kita harus terus maju.

Saya akan terus mengenal watakmu kapanpun itu seperti kamu seharusnya mengenal saya. Meski jarak memisahkan, meski tidak ada lagi lisan terucap, dan meski apapun itu saya tetap berdoa untukmu. Karena saya tidak bermaksud meninggalkanmu sama seperti kamu juga tidak. Mungkin kita sekarang cuma mengambil jalan masing-masing.

Live your life well, bbf :')

Sabtu, 07 Juli 2012

Alhamdulillah, KKN minggu ketiga :D

Ini sudah minggu ketiga Kuliah kerja Nyata (KKN) ang. 82 Unhas dan saya  masih belum measakan kerepotan dan segala hal tidak menyenangkan lainnya selain sinyal yang hilang timbul. Belum ada masalah seperti ini yang membuat saya lebih cemas. Seakan-akan sedetik kemudian akan ada masalah. Ya, saya akui tetap ada masalah dalam kehidupanku beberapa minggu ini tapi bukan berasal dari KKN beserta orang-orang yang terlibat di dalamnya. Sepertinya KKN adalah liburan, pembersihan jiwa, maupun terapi kedamaian buat saya.
Alhamdulillah, tidak ada hal yang bisa saya komplain mengenai posko Botto dan orang-orang hebat di dalamnya. Semua serasa begitu pas. Sudah lama saya tidak setentram ini. Jauh dari kesibukan, masalah, dan akhirnya saya punya waktu untuk berlibur. Saya akhirnya punya waktu untuk berkutat di dapur meskipun itu hanya untuk masakan siap olah, bermain dengan anak-anak pemilik rumah dan tentu saja berbagi dengan sepuluh pejuang kkn posto Botto lainnya. Ketentraman seperti ini seperti hadiah yang menyenangkan :)
Sejauh ini kegiatanku hanya jadi anak rumahan di posko. Menjalankan program kerja dan persiapannya secara bersama-sama yang memang sepertinya agak ribet utuk posko yang terletak di daerah 'kota'. Mandi pun dijadwal karena terkadang air tidak mengalir sementara kita harus menghemat air bak sampai hari berikutnya. Berkumpul di depan TV dan bisa dikatakan lebih fokus saat CTM (curhat time) daripada rapat posko adaah kegiatan avorit posko.  Walau hanya sekedar menonton deretan film bersama-sama dan bermacam kegiatan 'quality time' ! Oh iya, tidak lupa juga menjadwalkan sederet acara liburan yang terhalangi karena hujan deras akhir-akhir ini.
Mungkin karena saya sudah demisioner dari segala kegiatan di kampus, KKN terasa sangat damai dari beban kegiatan di Makassar kecuali OSCE. Banyak juga masalah yang baru saya ketahui saat di posko dan mungkin itu juga jalan Allah untuk menjauhkan saya dari faktor stress dan saya menganggap itu adalah cara Allah menyayangi saya. Terlebih, mempertemukan saya dengan empat abang dan enam saudari yang sedikit demi sedikit membuat saya kerasan di posko ketimbang di Makassar. X))

Kamis, 21 Juni 2012

Random

Random. begitu banyak hal ingin saya tuliskan tapi entah kenapa hilang ide begitu ada kesempatan. Mungkin karena terlalu banyak hal yang ingin saya ceritakan tapi masih acak di kepalaku sehingga pas keluar jadi macet seperti ini. Mungkin juga memang perasaan yang saya rasaka memang sedang aneh-anehnya jadi mood dan gaya penulisanku jadi semacam absurd, haha. Yah, banyak hal terjadi dan sepertinya saya sedang hilang arah.

Semestinya saat ini saya sedang ada di Desa Botto, Kecamatan Lalabata, Kabupaten Soppeng dan sedang menjalankan tugas (atau mungkin liburan?) Kuliah Kerja Nyata (KKN). Tapi, karena sedang UAS sehingga prodi PDU mendapat izin tinggal sampai Kamis di Makassar. Saya sangat berharap agar saya dapat menjalani KKN seperti liburan bersama 10 orang dari fakultas yang berbeda di suatu desa yang asri dan tentu saja sebagai penyemangat sebelum masa klinik dimulai. Saking semangatnya, pikiran saya pun mulai terpecah anatara UAS, persiapan KKN, dan tentu saja persiapan ujian OSCE yang nanti diadakan di pertengahan KKN. 

Perasaan aneh malam ini agak aneh juga ya? Sebenarnya selain menunggu nilai semester ini diumumkan, OSCE, dan KKN tidak ada yang perlu saya khawatirkan. Alhamdulillah, saya sudah demisioner dari BEM dan komisariat begitupun di bagian Faal. Tapi mungkin memang sekarang saya jadi anak rumahan yang tidak ada kerjaan itu iya.  Biasanya saya (sok) sibuk sampai bisa pulang larut malam sekarang cuma sejam-dua jam di kampus. Agak aneh tapi menyenangkan juga.

Persiapan untuk 'liburan' sudah selesai sisa berangkat ke lokasi begitu UAS selesai, Tapi, berhubung Uni Putri akan wisuda (lebih tepatnya nanti pagi), keberangkatanku juga tertunda. Yah, tentu saja untuk ada di samping kakakku di hari bahagianya itu. Masih tersisa juga perasaan ingin menebus dosa akibat keegoisan diri ini pergi Baksosnas Palu sehingga pada ujungnya wisudanya tertunda karena tidak fokus mengerjakan skripsinya di tengah kondisi dimana nenek masuk ICU saat itu. Yup, It will be her big day and I'll be there for her no matter it takes~ tsahtsah!

Semakin mendekati jadwal 'liburan', timeline dan recent updates BBM pun dibanjiri status tentang KKN. Nasihat yang paling sering saya dengar bukan tentang tips menyelesaikan tugas KKN tapi justru tentang cinta lokasi di KKN. Bahkan saat kelas pembekalan KKN pun cinlok dibahas di setiap sesi materi. Sepertinya banyak yang jadi korban sewaktu dulu, hhahaha. Orang yang paling ngotot ya, tentu saja Mama. Setiap hari kayak nya itu yang dimasukkan dalam wejangannya. Lengkap dengan promosi bahwa anak tehnik itu hebat blablabla terutama tehnik sipil. Yah, ujung-ujungnya promosi jurusannya Papa, hahahaha :D

Sejauh ini, sepertinya calon teman seposko saya sangat menyenangkan. Begitupun dengan kondisi desa yang akan saya tempati. Paling tidak katanya desa saya dekat dengan mesjid raya Soppeng yang pernah saya kunjungi saat study tour SMA. Belum lagi ada info kalau di desaku ada Alfamidi dan pasar malam, hehe. kelihatannya 'liburan' ini akan berlangsung sukses. Semoga saja :)

Sabtu, 21 April 2012

Praktikum PoA versus Macet

Apa kabar praktikum PoA? Saya masih dalam perjalanan menuju kampus di tengah kemacetan kota Makasar saat seharusnya saya harus ada untukmu di ruang kuliah Faal (RKF). Sebuah truk di jalur menuju kampus tercinta (antara Adipura dan jembatan Tallo) terparkir tidak berdaya memacetkan kota. Bukan, bahkan bisa dikatakan membuat kendaraan parkir, tak bergerak sama sekali dalam waktu yang cukup lama. Kota ini seperti 'salah penataan', sedikit saja terhambat sudah macet.

Sebenarnya saya sudah tahu kalau dari pagi ada macet karena ada truk yang (kabarnya) bannya pecah. Makanya saya sengaja ke kampus tidak terburu-buru, berharap macet sudah usai ketika saya berangkat. Paling tidak, bisa lewa tol. Tapi ternyata, maetnya belum juga selesai dan Mama tidak mau lewat tol. Alhasil dua jam terkatung-katung dalam macet dan dalam perasaan "bisa tidak ya, saya ikut praktikum setelah telat lebih dari satu jam?".

Lebih menggalaukan lagi, sinyal di sekitaran Panaikkang sangat jelek. Saya tidak bisa memantau via recent update BBM info siapa saja yang telat atau apakah ada kemungkinan bisa ikut praktikum. Sekiran jam 11 akhirnya saya melewati truk 'biang'kerok' kemacetan pagi ini. Waktu itu sekitar tiga jam lebih sejak recent-update tentang macet dimulai, sekitar satu jam lebih dari jadwal praktikum PoA atau lebih tepatnya dua puluh menit sebelum praktikum berakhir. Eh, kenapa truk-biang-keroknya belum diderek, Pak Polisi? (-__-)a

Macet mengajarkan saya banyak hal hari ini. Mungkin karena memang saya sedang sok puitis, sok dramatis, dan sok peka, saya menganggap fenomena macet itu seperti kehidupan. Kita menunggu giliran maju dan terkadang mengekor dengan mobil yang ada di depan mobil kita. Supaya bisa terus maju, kita harus punya strategi bertahan di lajur yang lebih lancar. Bisa saja kita pindah lajur ke kiri maupun ke kanan namun, kita harus ingat terkadang jalanan makin sempit dan bisa saja lajur kita terpaksa mengalah.

Mobil yang ada di depan kita bisa saja nantinya akan ada sejajar dengan kita maupun bisa di belakang kita, begitupun sebaliknya. Lebih mudah di belakang mobil yang sama ukurannya karena artinya mobil kita bisa melewati jalur yang mobil tadi lalui. Sebaliknya, berada diantara truk dengan lajur yang sempit adalah pilihan sulit. Terkadang kita memilih untuk tidak maju karena takut terhimpit. Semua ingin terus maju yang membedakan ialah kemampuan mengambil kesempatan. Sama seperti persaingan dalam kehidupan.

Setelah melewati truk tadi, jalanan sangat lancar begitupun dengan recent-update BBM. Sempat terpikir tidak hanya saya yang telat, tapi melihat recent update yang tidak segalau dugaanku artinya prognosis buruk. Benar saja, sampai di kampus ternyata sisa 10 menit lagi praktikum selesai. Untung saja tadi saya cukup beruntung untuk lincah di saat yang tepat. Setelah praktikum rupanya tidak ada lagi kuliah. Artinya perjuangan saya untuk ke kampus demi 10 menit saja ? Sungguh tidak rela. X_X

Selasa, 17 April 2012

Mengitung Mundur

Mungkin terlalu cepat untuk menghitung mundur waktu lepas dari beberapa jabatan yang selama setahun belakangan ini mengoyakkan hidup saya. Ya, paling cepat sebulan lagi. Sebulan lagi saya akan lepas (paling tidak terbebas dari tanggung jawab sebagai pengurus) dari tiga amanah: BEM, HmI Kom. Kedokeran Unhas, dan tentunya jabatan asisten Faal FK Unhas. Ada kemungkinan sebelum saya menginjak umur 21 di akhir bulan Mei depan saya sudah terlepas dari semua itu. Ada kemungkinan saya sangat bersyukur dan ada kemungkinan saya akan sangat rapuh saat itu.

Bisa dikatakan ketiga amanah itu sangat mempengaruhi hidup saya, baik sebelum akhirnya dipercaya maupun sampai sekarang. Ketika saya mengutak-atik laptop, saya menemukan banyak file kenangan bagaimana hidup saya terus berlanjut dari satu masa ke masa lain, dari satu kawan ke kawan lain. Sepertinya saya tidak memerlukan 'amnesia' seperti pemeran utama film "The Vow' untuk bingung mengapa hidup saya seperti ini sekarang jika dibandingkan dengan lima tahun sebelumnya. Apa yang dulu saya pertahankan sekarang bukan prioritas lagi.

Banyak hal yang tidak lagi saya paksakan, tapi tetap ada hal yang saya coba untuk selesaikan. Mungkin ini yang disebut psikologi-pengurus ya? Tapi tidak juga, setidaknya ini juga berpengaruh pada kehidupan sosial saya. Terkadang saya merasa menyesal dan ingin kembali ke masa-masa minimal sesaat saya ikut LKTM Ekonomi dulu. Banyak persimpangan yang saya lewati setelahnya dan keinginan untuk memutar balik sejujurnya sangat kuat. Tapi saya tahu bila diulangi sekali lagi mungkin hasilnya tetap sama. Apa yang tidak ditakdirkan ya tidak akan terjadi #eh

Pelajaran penting yang saya dapatkan ialah jangan terlalu menggantungkan kebahagiaan terhadap sesuatu. Termasuk jangan terlalu berpegang teguh dengan apa yang orang lain janjikan. Sudah terlalu banyak pembuktian dalam setahun ini, banyak janji maupun pernyataan sikap orang sekitar saya yang bertolak belakang dengan apa yang sebenarnya terjadi. Kalau diingat lagi, tetap ada perasaan mendongkol yang Alhamdulillah mulai menghilang ketika mengingat semua 'jebakan' yang telah saya lalui. Paling tidak sekarang saya bisa mengukur banyak hal.

Saya mencoba konsisten dengan prinsip bila tidak suka diperlakukan seperti itu, maka jangan melakukannya. Selain tidak kontradiktif dengan hati, setidaknya tidak memperumit masalah. Saya tetap di sini, tidak menghilang kemana pun. Mungkin sekarang saya cuma butuh waktu untuk menerima transisi atas banyak hal. Hidup mungkin telah mengajak saya berpetualang, tapi saya tetap Dini. Setelah ini mungkin hidup saya akan sangat hampa tapi mungkin itu yang saya butuhkan saat ini. Tapi mungkin saja itu hanya untuk beberapa saat saja :)

Selasa, 20 Maret 2012

Akumulasi

Selamat datang, sistem Tumbuh Kembang dan Geriatri! Akhirnya ku menemukanmu, hehehe. Tidak terasa sudah mendekati akhir siklus preklinik dan harus berhadapan dengan sistem-sistem yang menakutkan menurut cerita senior-senior. Faktor pemicu stress juga sangat memuncak akhir-akhir ini. Mungkin sudah banyak yang jenuh dengan rutinitas preklinik. Semuanya sudah menuju titik akhir, menuju titik awal yang baru.

Hari ini saya hanya bisa mengikuti satu topik kuliah saja. Harga BBM segera dinaikkan oleh Pemerintah yang tampaknya tidak peka melihat penolakan kebijakan tersebut memaksa mahasiswa dan beberapa organisasi lainnya untuk turun ke jalan alias melakukan unjuk rasa. Tentu saja sebagai orang yang entah-sering-dikandangkan-atau-memang-seharusnya ikut mendampingi bapak Ketua BEM Kema FK Unhas *tepuktangan3kali*. Untung saja kuliah yang tadi saya ikuti sangat menarik: Obesitas pada anak.

Duduk di bangku belakang kini tidak lagi menghalangi kualias belajar di RKF. Sekarang sudah ada layar LCD di tengah ruanganterlebih ryan sang operaor kelas telah kembali kuliah di RKF #eh. Setelah saya pikir-pikir kuliah tadi sore menarik karena banyak hal, misalnya: dosennya adalah role-mode bagi saya, saya duduk di belakang namun di depan residen sehingga harus fokus, proyeksi LCD di belakang jauh lebih bagus daripada yang di depan, dan banyak statement yang 'jleb'.

Ketika input(makanan) lebih besar daripada output (energi yang dikeluarkan dalam beraktivitas), maka akan terjadi proses akumulasi yang akan menyebabkan obesitas
Kalimat ini sangat menjawab semua pertanyaan yang ada di kepala saya tentang banyak hal yang terjadi di sekeliling saya, baik itu masalah berat badan saya yang selalu mendekati interpretasi 'overweight', organisasi, keluarga dan pergaulan saya. Ya, akumulasi. Seperti materi kuliah yang saya ikuti: kita tidak sadar atau sebenarnya membiarkan atas dasar maklum sampai akhirnya healthy child sudah menjadi adult-obese yang susah ditangani.

Menurut ilmu Onkologi yang insya Allah tetap saya cintai, akumulasi dari sel yang gagal untuk diatur akan menjadi tumor dan berlanjut ke fase-fase berikutnya. Bicara soal onkologi, tidak jarang saya mendengar nasihat orang tua untuk tidak memendam emosi maupun perasaan supaya tidak terkena kanker (menurut mitos menghindari kanker payudara). Salah satu caranya adalah tidak menyakiti diri sendiri. Tapi untuk saya, sangat sulit untuk membulatkan tekad untuk menhindari faktor pencetus sindrom-menyakiti-diri-sendiri. Tentu saja masalah yang datang terus mengakumulasikan perasaan yang tidak nyaman pada saya. Tentu saja ini adalah masalah, memang ini saat yang tepat untuk 'detox dini'.

Setelah melakukan banyak pertimbangan baik itu timbang berat badan dan timbang perasaan, kali ini saya akan benar-benar serius dalam menjalankan niat-niat yang ada di kepalaku. Banyak hal yang harus dieksekusi mulai dari tanggung jawab, diet sehat, komitmen bagi diri sendiri dalam besosial-ria, dan tentu saja perbaikan diri. Sejauh ini semua program sedang saya jalankan dan Alhamdulillah sampai saat ini lebih bahagia dari sebelumnya dan lebih tentram. Semoga tekad kali ini tidak luntur, amiin O:)

Selasa, 20 Desember 2011

Itu yang Disebut Romantis :*

Bersyukur.Itu mungkin kata yang terpikir oleh saya saat ini. Di tengah banyaknya masalah, saya merasa masih dikelilingi oleh orang-orang yang mencintai saya. Terkadang ada masalah yang muncul dan itu 'tidak-cukup-membuat-saya-sedih', tapi ada mereka. Ya, mereka. Mereka yang begitu perhatiannya kepada saya entah itu setelah tahu atau sebelum mereka tahu konflik yg melibatkan saya. Mereka yang terbawa emosi, bahkan lebih emosional dari saya, membela saya.

Terkadang karena itulah saya hanya bisa terlihat baik-baik saja bahkan rasa humor saya meningkat di saat saya 'bermasalah'. Cenderung tidak menceritakan semuanya dan memang tidak nyaman rasanya melibatkan mereka atas apa yang benar- benar saya rasakan. Karena apa yang saya alami akan mudah saya lupakan jika bersama mereka sementara mereka masih terbawa emosi. Terlebih saya cenderung mengambil keputusan yang tidak favorit. Inilah yang membuat saya sedih atas masalah yang menimpa saya, tidak ada yang mendukung pilihan saya :(




HmI Komisariat Kedokteran Unhas dan kawan-kawan setelah resepsi, salah satu 'mereka' bagi saya :D



Beberapa saat lalu saya dituduh tidak sayang keluarga, jarang berkumpul dengan sahabat-sahabat saya, sibuk dengan urusan ini-itu. Mungkin mereka salah mengerti, justru sayalah yang sangat merindukan mereka. Tidak mengucapkan, bukan berarti saya tidak sayang. Tidak protes, bukan berarti saya tidak cemburu. Dan diamnya saya justru adalah bentuk ketidaksukaan saya tingkat tinggi. Saya berusaha untuk selalu ada untuk kalian. Terima kasih untuk menyayangi saya sebagai mana saya apa adanya. Itu yang disebut romantis :*